PACU ITIAK (FITRI SABILA HUSNI)

PACU ITIAK

OLEH

FITRI SABILA HUSNI





 

Dinginnya udara pagi hari tidak menghalangi Abid--seorang pemuda yang berumur 20 tahun, untuk mengembala itik-itik milik orang tuanya di sawah yang baru saja panen. Sawah itu terletak tidak jauh dari kandang ternak itiknya. Di sawah, Itik-itik tersebut melakukan aktivitas, ada itik yang memakan padi sisa dari panen, ikan-ikan kecil, dan juga keong sawah. Dan ada juga itik yang mandi digenangan air sawah.

Abid ditugaskan oleh orang tuanya untuk mengawasi itik-itik tersebut selama 1 jam. Ia duduk di sebuah dangau yang berada di dekat sawah tempat itik-itik tersebut makan dan bermain. Ia duduk sambil melihat itik-itik tersebut beraktivitas dan mengawasi agar tidak ada itik yang makan padi tetangga. Tak lama kemudian Abid, secara tidak sadar sudah melamun. Di tengah lamunannya tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.

Oi,” ucapnya pelan, namun membuat Abid terkejut hingga terperanjak dari tempat duduknya. Abid menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata itu adalah temannya.

“HAHAHAHA, semenyeramkan itukah muka tampanku ini?” lanjutnya sambil tertawa kencang lalu duduk di samping Abid.

Tcih, kau menggangguku saja. Jika kau tidak memiliki kepentingan denganku, lebih baik kau pergi,” usir Abid dengan penuh kekesalan terhadap temannya, Ismail.

“Baiklah, aku pergi.” Ismail berbalik badan akan pergi.

“Padahal aku ingin mengatakan hal yang menarik.” lanjutnya pelan dengan sedikit menyeringai, menunggu reaksi Abid.

Abid yang mendengar hal tersebut menjadi penasaran. Dengan cepat, ia mencegah Ismail untuk pergi dengan cara menarik pergelangan tangan Ismail untuk duduk kembali.

“Cepat katakan.” ucap Abid singkat setelah Ismail duduk.

“Katakan apa?” tanya Ismail, berpura-pura tidak tahu. Ia menoleh ke arah Abid dan melihat ekspresi Abid yang seperti akan meledak karena kekesalannya makin bertambah, ia tertawa puas.

“HAHAHA, baiklah. Akan ada lomba pacu itiak, 3 bulan lagi—“

“Lalu?” potong Abid, merasa tidak tertarik dengan lomba itu.

“Dengar dulu, jangan potong omonganku. Aku melihat salah satu itikmu yang sepertinya akan memenangkan lomba itu. Itik itu terlihat kuat dan memiliki sayap yang panjang.” jelas Ismail sambil menunjuk itik yang menarik perhatiannya.

“Tidak, aku tidak tertarik.” Abid menolak tanpa berpikir panjang.

“Ayolah… Kau memiliki banyak waktu untuk melatih dan merawat itik itu.” bujuk Ismail.

Abid tidak menggubris bujukkan Ismail. Ismail pantang menyerah, ia terus-menerus membujuk tanpa henti sampai mendapatkan reaksi dari Abid. Abid yang mendengarkan Ismail berbicara tanpa henti, ia sedikit terbujuk dengan ajakkan Ismail. Lalu ia membayangkan apa yang terjadi jika ia memenangi lomba itu.

“Baiklah, aku ikut dan akan memenangi lomba itu.” ucap Abid dengan penuh semangat.

“Oke.” ucap Ismail singkat sambil mengeluarkan kertas dan pena dari saku celananya, lalu menuliskan nama Abid sebagai peserta.

“Jadi kau panitianya?!” Abid terkejut.

“Iya, kenapa?” jawab Ismail dengan santai.

“Pantas saja kau membujukku sampai segitunya, pasti yang mendaftar masih sedikit ya?” tanya Abid sambil mendengus kesal.

“Benar! Woahh jangan-jangan kau cenayang?!” seru Ismail bercanda.

Lalu menoleh ke arah Abid, ia melihat ekspresi Abid yang kesal seperti akan melemparkan barang kepadanya. Dengan cepat ia berdiri.

“Urusanku masih banyak, aku pergi dulu” Ismail pergi dengan terburu-buru sebelum ia menjadi sasaran kekesalan Abid.

*****

Setelah perbincangan tersebut, Abid mengumpulkan itik-itiknya bersiap untuk kembali ke kandang ternak itiknya. Sesampainya di kandang ternak, ia memasukkan itik-itik kedalam kandang, ia melihat itik itu satu per satu dan menemukan satu itik yang ditunjuk oleh Ismail tadi untuk ikut pertandingan dan satu itik yang memiliki fisik yang sama-sama kuat sebagai cadangan. Kemudian ia menangkap itik-itik itu, lalu mengikat tali rafia pada sayapnya untuk menandai itik yang akan ia latih dan agar tidak tertukar dengan itik-itik lainnya.

Kemudian Abid pulang ke rumah untuk beristirahat dan meminta izin kepada orang tuanya untuk ikut lomba pacu itiak. Saat membuka pintu rumah, ia menemukan ibunya sedang berbincang-bincang dengan ayahnya di sofa ruang tamu. Abid langsung menghampiri dan menyalami mereka. Lalu ia duduk di samping ibunya dan memberi tahu kepada bahwa ia ikut lomba pacu itiak. Orang tuanya terlihat sangat antusias setelah diberitahu tentang lomba itu, jika Abid menang maka itu dapat meningkatkan harga jual itik-itik mereka. Mereka mengizinkan Abid untuk ikut lomba karena baru kali ini Abid ingin ikut melestarikan tradisi Minangkabau. Abid sangat senang sekaligus tidak menyangka ia diizinkan tanpa harus berbincang panjang seperti yang ia bayangkan.

*****

Keesokan hari, Abid pergi ke kandang ternak itik dan langsung memisahkan itik-itik yang sudah ia tandai kemarin, lalu mengurungnya untuk diberi makanan khusus yakni padi kering yang dicampur dengan telur itik yang sudah dikeringkan lalu memberikan air untuk diminum. Kemudian ia mulai melatih itik-itik itu untuk meningkatkan kemampuan terbangnya. Awalnya itik-itik itu terbang tidak terlalu jauh. Abid terlihat sedikit putus asa karena ia sudah berkali-kali ia melempar itik-itik itu untuk terbang. Namun jarak yang ditempuhnya tetap sama, tidak ada peningkatan.

Ternyata ayahnya melihat hal itu, ia terkekeh pelan melihat anaknya yang terlihat putus asa melatih itik-itik itu. Karena merasa kasihan, ia menghampiri Abid.

“Nak, apakah kau sudah memandikannya dahulu?” tanya ayahnya.

“Belum, Yah. Untuk apa dimandikan? Toh, ini juga tidak akan terlihat beda jika dimandikan, sama-sama terlihat kumuh,” ucap Abid.

“Ini bukan hanya tentang penampilannya, “ ucap ayahnya sambil menggelengkan kepalanya

“Tapi jika dimandikan setiap hari badan itik-itik itu akan terasa ringan. Jadi mereka bisa terbang tinggi,” lanjut ayahnya.

“Oooo, mana Abid tahu, hehe.” balas Abid malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Kemudian Abid dibantu ayahnya untuk memandikan itik-itik itu dengan bak plastik yang diisi air hangat. Mereka membiarkan itik-itik itu bermain air selama beberapa menit untuk membiasakan diri dengan air. Lalu mereka mengeringkan itik-itik itu agar tidak kedinginan. Setelah itu, ayah Abid memberikan itik-itik itu diberi vitamin dan madu supaya stamina mereka kuat dalam mengahadapi pertandingan itu.

*****

Tanpa mereka sadari, terdapat seorang pemuda yang mengawasi pergerakan Abid dan ayahnya dari kejauhan. Ia mencatat apa saja yang diberikan ayah Abid kepada itik-itik itu dan cara mereka melatih itik itu terbang.

“Lihat saja, kau tidak akan memenangkan pertandingan ini, Bid,” ucapnya sambil menyeringai.

*****

Selama 3 bulan, Abid merawat dan melatih itik-itik itu dengan penuh semangat dan kasih sayang. Abid merasa bangga terhadap itik-itik itu karena setiap kali ia melatih, itik-itik itu menunjukkan perkembangan yang meningkat seperti jarak tempuh terbangnya yang makin jauh dibandingkan ketika ia belum melatihnya. Dan tentunya ia bangga terhadap dirinya sendiri karena sabar dan pantang menyerah dalam melatih itik-itik itu.

Namun pada hari perlombaan, suatu hal yang tidak terduga pun terjadi. Saat dia pergi ke kandang itiknya, ia menemukan itik yang akan iku lomba terlihat sangat lemas. Abid terkejut karena sehari sebelumnya itik itu baik-baik saja. ia bertanya-tanya mengapa itik itu bisa tiba-tiba sakit. Saat ia memeriksa badan itik itu, terdapat bekas suntikan. Ia berasumsi bahwa ada seseorang yang ingin menjatuhkannya dengan menyuntikkan racun ke itik itu.

Hal itu tidak menghalangi Abid untuk ikut lomba pacu itiak. Ia tetap ikut dengan itik yang sudah ia cadangkan sebelumnya dan sudah dilatih bersama itik yang sakit itu. Sebelum Abid pergi ke tempat pertandingan, ia meminta ayahnya untuk merawat itik yang sakit. Ayahnya juga terkejut dan mencoba untuk tetap tenang. Ia menyuruh Abid untuk pergi ke tempat pertandingan segera dan memberitahu Abid agar tidak cemas dan fokus saja terhadap pertandingannnya.

*****

Sesampainya di jalan raya, tempat perlombaan itu berlangsung, Abid dihampiri oleh teman masa kecilnya, Rizal.

“Bid! Bagaimana bisa kau ada di sini?!” ucap Rizal terkejut, kebingungan dan sedikit kesal.

“Hah? Apa maksudmu? tentu saja aku bisa di sini.” Jawab Abid kebingungan dengan tingkah Rizal yang sedikit aneh.

Rizal pergi begitu saja sambil menggerutu di setiap langkahnya. Meninggalkan Abid yang kebingungan. Ia merasa sedikit curiga dengan tingkah laku Rizal,

“Apakah dia yang meracuni itikku?” pikir Abid.

Abid memutuskan untuk tidak berprasangka buruk terhadap Rizal, ia pikir mungkin Rizal dalam suasana hati yang buruk karena hal lain. Abid mengangkat bahunya. Ia tidak ingin terlalu memikirkan itu, lalu ia pergi ke lintasan awal pacu itiak karena perlombaan akan dimulai.

Abid dan itiknya mengikuti lomba pacu itiak dalam kategori terbang bebas. Jadi ia melempar itiknya, lalu itiknya hanya perlu terbang sejauh mungkin. Abid pikir tidak apa-apa jika itiknya tidak terbang jauh dari itik-itik lainnya. Ia hanya ingin bersenang- senang.

Sebelum aba-aba lomba dimulai, Abid dan peserta lainnya, termasuk Rizal, bersiap dan berdiri sambil memegang itik mereka masing-masing di garis start. Abid berdoa untuk hasil yang terbaik. Ia memasang wajah yang tenang dan juga bersemangat. Di sisi lain, terdapat Rizal dengan wajah yang penuh ambisi dan kemarahan.

Aba-aba mulai pun dibunyikan, tanda perlombaan dimulai. Abid dan peserta lainnya melempar itik mereka masing-masing. Itik-itik itu terbang sepanjang lintasan. Di tengah-tengah lintasan, ada beberapa itik peserta lain yang sudah mendarat dan berhenti dan ada itik yang terbang keluar dari lintasan. Yang tersisa hanya itik milik Abid dan Rizal. Mereka menjadi gugup dan penasaran, itik siapa yang terbang paling jauh dan menjadi pemenang.


Rizal merasa percaya diri bahwa itiknya akan menang, namun kenyataan tidak sesuai dengan keinginannya. Itiknya tiba-tiba belok ke arah penonton dan mendarat di sana. Penonton pun ricuh karena itiknya mulai mematok orang-orang yang ada di sekitar sana, merasa terancam. Rizal yang melihat hal itu menjadi malu dan dengan cepat menangkap itik miliknya agar tidak membuat kejadian memburuk.

Dengan terjadinya hal itu, maka itik milik Abid lah yang mencapai garis finish dan terbang paling jauh. Panitia memutuskan bahwa pemenangnya adalah Abid. Maka berakhirlah pertandingan tersebut. Mendengar keputusan panitia, Abid merasa sangat senang karena perjuangannya selama ini dalam melatih dan merawat itik itu terbayarkan.

Setelah itu, panitia menyerahkan piala dan sebuah hadiah kepada Abid. Abid menerima piala dan hadiah tersebut dengan rendah hati. Selanjutnya mereka mengambil foto bersama sebagai dokumentasi. Kemudian Ismail menghampiri Abid,

“Selamat ya…. Tidak sia-sia aku membujukmu untuk ikut,” ucap Ismail sambil menjabat tangan Abid.

“Terima kasih sudah meyakinkanku untuk ikut,” balas Abid sambil terkekeh. Lalu mereka berbincang ringan. Membicarakan bagaimana Abid bisa sabar merawat dan melatih itik itu dan hal-hal tidak penting lainnya. Di tengah perbincangan mereka, Rizal menghampiri mereka dan mengucapkan selamat kepada Abid,

“Selamat atas kemenanganmu, Bid! Dan aku juga ingin minta maaf,” ucap Rizal sambil sedikit menunduk, merasa bersalah.

“Terima kasih, tapi maaf untuk apa?” tanya Abid kebingungan.

“Itu… Aku yang memberikan racun kepada itikmu tadi malam dan memata-mataimu. Aku iri terhadapmu karna dulu kau mendapatkan semua yang kau inginkan. Aku sangat ingin mengalahkanmu. Maafkan aku telah bersikap seperti itu,” jawab Rizal dengan tulus.

Sebelum ia menghampiri Abid dan Ismail, ia sudah memikirkan risiko yang akan ia terima jika mengakui kejahatannya yakni dimaki-maki oleh Abid. Namun, tiba-tiba Abid menepuk pundaknya pelan lalu bekata,

“Tidak apa. Aku memaafkan mu, tapi lain kali jangan melakukan hal jahat seperti itu lagi kepadaku atau orang lain. Jika kau melakukannya lagi maka mungkin kau akan menerima balasan yang sama atau bahkan lebih dari apa yang sudah kamu lakukan. Sebaiknya kamu berpikir dulu sebelum bertindak dan buang rasa iri dengki mu jauh-jauh, tidak ada gunanya merasa seperti itu…” balas Abid sambil tersenyum tipis.

Rizal pun mengangguk, lalu berkata, “Baiklah, terimakasih sudah mau memaafkanku.”

Mereka pun berteman kembali tanpa ada sedikit pun rasa iri atau benci terhadap satu sama lain.

 

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Hasil Penelitian Fitri dan Nurul

PERKENALAN, hehe