MENJADI JUARA (FLANELA PUTRI MELYANOF)


 MENJADI JUARA

OLEH FLANELA PUTRI MELYANOF

 

Gadis bermata cokelat berjalan menuruni tangga diiringi oleh tim tari nya sambil membawa satu piala yang bertulisan juara dua tari kreasi Sumatera Barat dengan perasaan riang gembira. Mereka baru saja memenangkan lomba tari tingkat provinsi dan akan menuju seleksi tingkat nasional. Lomba tingkat nasional adalah lomba yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka.

Saat mereka sedang asyik berbincang, datang segerombolan kelompok penari yang dipimpin oleh salah satu gadis yang berupa cantik tapi terlihat tidak ramah. Mereka menghampiri tim si mata cokelat dengan tatapan sinis nya.

“Woi Karina dan biri-biri,” kata si gadis tak ramah itu.

Anggota tim serta si gadis bermata cokelat yang biasa di panggil Karina sontak menoleh ke gadis yang tidak ramah itu. Karina, selaku kapten tari di timnya berdiri dan menghadapi si gadis yang tidak ramah yang juga seorang kapten tari di timnya.

 “Ada urusan apa kalian kamari?” tanya Karina dengan muka datar nya. Si gadis itu tertawa kecil dengan senyum yang tidak enak dipandang.

       “Kau kira dengan penampilan kalian tadi pantas untuk mendapatkan juara?” gadis itu berjalan sombong dan mengambil piala dari genggaman Karina.

         “Kalian tidak pantas mendapatkan nya.” Gadis tersebut melepaskan piala itu dari tangannya seolah-olah benda itu adalah sampah baginya. Untung saja berhasil ditangkap oleh Karina.

“Jika kami tidak pantas mendapatkannya, mengapa kami mendapatkannya? dan kamu, jika ingin mendapatkan juara kami, minimalkan ekspresi mu yang ndak baik itu. Kau membawakan tari payung yang bermakna kebahagiaan tapi ekspresi angkuhmu dan ekspresi tim mu yang tegang membuat tari payung itu tidak bahagia. seharusnya tim kau lah yang diragukan mendapatkan juara tiga,” kata Karina dengan nada tegas dan ekspresi yang tenang.

Kata-kata Karina membuat hati si kapten angkuh itu meronta-ronta kesal. Gadis itu berbalik dan berjalan menjauhi Karina dengan perasaan kesal.

“Awas saja kau, aku akan membalas perbuatanmu.”

 

 

Gadis angkuh itu bernama Yara. Yara adalah teman tari Karina dari sekolah dasar. Dia sangat iri dengan Karina, karena Karina memiliki potensi dan bakat yang sangat luar biasa dalam bidang seni tari, dia juga diamanahkan sebagai pembimbing teman-teman tari lainnya. Karina selalu dipuji dan di anggap di sekolah.Yara juga memiliki potensi dan bakat yang baik sama dengan Karina dalam seni tari, akan tetapi  dengan sikap sombong dan selalu tidak mendengarkan pelatih, Yara selalu ceroboh dan tidak serius untuk latihan. Lama kelamaan rasa iri itu menjadi rasa benci dan dengki kepada Karina. Selama perlombaan Yara menganggap saingan kepada Karina walaupun mereka satu tim. Yara ingin hanya dia yang menjadi paling baik dalam tim tarinya.

Karina tidak merasa benci kepada Yara. Dia menganggap Yara memiliki potensi yang luar biasa sama dengan dirinya, hanya saja sifat iri dan sombong meliputinya. Karina selalu baik kepada Yara dan selalu menyemangatinya. Karina tidak pernah bersaing pada Yara saat di sekolah dasar. Hanya saja karena sudah berbeda sekolah, rasa bersaing Karina kepada Yara mulai tumbuh. Tentu Karina ingin timnya menjadi yang terbaik se provinsi dan mengharumkan nama sekolahnya. Pada tingkat sekolah menengah pertama ini tim Karina dan tim Yara adalah saingan terberat. Nilai mereka selalu berdampingan. Kadang tim karina lebih unggul daripada tim Yara, kadang sebaliknya.

“Apa sih masalah tim mereka dengan kita? Kalau kita lebih unggul dari mereka ya terima saja apa susahnya,” celoteh rekan tim Karina yang duduk sambil memakan semangkuk cindua yang dijual oleh amak-amak bergerobak di pinggir jalan.

“Terlalu sombong itu tidak baik Siska. Sabar saja dan jangan pikirkan. Pikirkan saja bagaimana seleksi nasional nanti,” jawab salah satu rekan tim lainnya.

“Baiklah kawan-kawan. Sebentar lagi kita akan segera pulang. Berkemas-kemas lah,” perintah Karina kepada rekan tim nya. Semua menjawab dengan serentak dan bergegas membereskan barang-barang mereka.

Dalam perjalanan, Karina tidak berhenti memikirkan seleksi untuk menuju ke tingkat nasional. Mereka harus lebih serius dan berlatih lebih giat. Dia berpikir latihan minggu ini seprtinya akan lebih lelah dari biasanya.

Kemarin sebelum diperbolehkan untuk pulang. Juri memberitahukan tari yang akan dibawakan kepada tim yang akan lanjut ke tingkat nasional yaitu tari piring. Akan ada lima tim dari sepuluh tim yang akan lolos seleksi untuk lanjut ke tingkat nasional.  Dan mulai hari ini, tim Karina akan latihan lebih giat dan konsisten agar lolos seleksi tingkat nasional.

“Yang bagian injak-injak piring siapa, guys?” tanya Siska pada rekan tim lainnya.

“Tentu saja kapten tercinta kita!” jawab salah satu rekan tim bernama Nana sambil menunjuk Karina dengan kedua telunjuk nya. Semua sangat setuju pada Nana.

“Baiklah kalau begitu mari mulai berlatih,” jawab Karina dengan senang hati menerima pilihan tersebut kepadanya.

Mereka latihan dengan serius. Walaupun serius, kadang mereka masih bercanda untuk mengurangi ketegangan dalam latihan. Karina melihat rekan nya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa kepada mereka. Karina menegur mereka dan menyuruh mereka agar lebih fokus untuk berlatih.

***

Begitulah rutinitas mereka dalam latihan. Tidak terasa mereka sudah latihan selama lima hari, tinggal enam hari lagi mereka akan menuju seleksi.

 “Ingat, jaga diri kalian dan makanlah dengan teratur. Hari seleksi sudah tidak lama lagi. Tapi bagi aku sendiri, hari demi hari penampilan kita semakin meningkat. Jadi, kita tinggal memaksimalkan saja. Baiklah segitu saja latihan pada hari ini dan hati-hati dijalan!”

 Sesudah penyampaian singkat oleh sang kapten, mereka mulai bersiap-siap untuk pulang. Perlahan-lahan mereka semua pulang dan tinggal Karina seorang diri di ruang latihan. Karina sebagai kapten yang baik selalu menunggu rekan-rekannya pulang terlebih dahulu setelah itu barulah Karina yang pulang. Karina menyandangkan tas nya dan mematikan lampu ruangan. Dia keluar dari ruang latihan, menutup pintu lalu mengunci ruangan tersebut. Dia berjalan menuju pagar sekolah dan menunggu jemputannya tiba.

       Sudah tiga puluh menit Karina menunggu, belum ada yang menjemput Karina. Sekitar sekolah sudah tidak ada orang. Semua orang yang ada di sekolah sudah pulang satu jam sebelum mereka latihan. Langit sudah mulai gelap, terpaksa Karina pulang dengan berjalan kaki. Dari sekolah ke rumah Karina agak jauh, Karina pernah berjalan menuju rumahnya dengan rekan-rekan timnya, karena di perjalanan mereka selalu bercanda gurau jadi ke rumah Karina terasa cepat. Tapi kali ini Karina berjalan sendiri, sepertinya akan terasa lama sampai kerumah.

       Sudah lima belas menit Karina berjalan, masih setengah jalan dia berjalan. Dari seberang jalan Karina melihat sebuah minimarket. Karina cukup lelah, maka dari itu Karina memiliki niat untuk kesana. Saat menyeberang, sebuah klakson mobil terdengar oleh Karina saat menyemberang. Karina kaget klakson itu tertuju untuk dirinya dan Karina tidak sempat mengelak dari mobil tersebut. Alhasil Karina tertabrak dan terpental  jauh dari awal dia berdiri. Orang yang menabrak Karina tidak memperdulikannya dan langsung melaju jauh darinya. Karina masih tersungkur dengan sakit yang luar biasa. Kakinya mati rasa. Kepalanya sangat sakit dan pandangannya berkunang-kunang. Perlahan-lahan semuanya mulai kabur dan Karina pun pingsan.

***

       Mata nya terbuka perlahan-lahan. Atap putih pertama kali yang dia lihat. Dia melihat tangan nya di infus. Kepalanya masih sakit dan ia mencoba bangkit dari tidurnya.

       “Karina tiduran saja jangan bergerak!” seseorang yang berbicara tepat disamping tempat tidur nya. Terlihat perempuan yang menatapnya dengan ekspresi yang sangat khawatir.

“I-ibu? Ya Allah! Tim tari ku!”

      “Tenang Karina…”

      “Tidak bisa ibu… ini adalah seleksi yang sangat penting!”

      “Karina!” terdengar suara di pintu yang menyorakinya dan berlari mendekati Karina.

       “Kenapa kamu bisa tertabrak? Kamu berjalan kaki? Kamu tidak dijemput?” tanya Siska terburu-buru dengan wajah khawatirnya.

       Wajah ibu Karina menunduk dan meneteskan air matanya, “maafkan ibumu nak, ibu ketiduran kemarin dan lupa untuk menjemput mu…”

       “Eh ibu jangan menangis, ibu tidak salah kok. Karina yang salah seharusnya aku melihat jalan sebelum menyeberang,” kata karina sambil menghapus air mata pada mata ibu nya.

       “bagaimana dengan yang lain? mereka tetap latihan kan?”

       “Ya,  mereka tetap latihan dan bagaimana dengan mu? Apakah bisa untuk lanjut? Jika tidak ada kamu, kami susah latihannya.”

Karina berpikir sejenak. “Apakah kamu mau menggantikan posisiku?”

“Posisi apa?”

“Posisi tari ku.” Siska yang mendengarkannya sontak kaget.

“Sepertinya aku tidak bisa ikut seleksi nasional, jadi aku akan memberi posisi tari ku padamu. Tenang, aku tetap akan bersama kalian. Tapi, aku hanya bisa membimbing kalian saja,” kata Karina dengan senyuman.

Siska berpikir sejenak, “baiklah, demi tim kita!”

Hari kedua dan hari ini adalah hari terakhir Karina berada di rumah sakit. Kaki Karina terkilir dan terpaksa menggunakan kruk untuk menopang dirinya.

“Ibu,  aku harus ke sekolah hari ini untuk membantu rekan tim ku.”

“Kamu baru keluar rumah sakit loh nak, mending kamu istirahat dulu di rumah,” jawab ibu nya dengan wajah khawatir nya.

“Tidak apa-apa ibu, aku baik-baik saja,” jawab Karina meyakinkan ibu nya.

Ibu menghela nafas nya, “baiklah kalau begitu. Tapi jangan banyak bergerak ya,” kata ibu sambil memberi senyuman kepada Karina.

Sesampainya di sekolah, Karina berjalan menuju ruang latihan nya. Orang di sekitar sekolah memperhatikannya tapi dia tidak memperdulikannya. Saat Karina berada di pintu ruang latihannya, belum sempat dia mengetuk pintu, Nana sudah membukakan nya pintu.

“KARINA!” teriak Nana ke depan muka Karina. Sontak rekan-rekan yang lain menoleh ke sumber suara.

“Loh Karina sudah baikan?” tanya Nana di hadapan Karina.

Karina menganggukan kepalanya. “Iya, hanya saja aku tidak bisa ikut seleksi nanti. Jadi posisi ku dalam menari besok diganti oleh Siska dan aku hanya akan membimbing kalian saja. maafkan aku,  aku tidak hati-hati menjaga diri ku. Aku sendiri yang mengingatkan kepada kalian jaga diri baik-baik, malahan aku sendiri yang tidak berhati-hati,” kata Karina sambil memasang muka sedih dan menyesal.

“Tidak apa-apa Karina. Kita tidak pernah menyalahkan mu. Kecelakaan itu tidak disengajakan. Kami sangat berterimakasih kepada mu sudah selalu mengingatkan kami untuk menjaga kesehatan kami. Dan kami sangat mengkhawatirkanmu saat mendengar kabar dari Siska waktu itu.”

“Terimakasih kawan-kawan, kalian adalah rekan tim ku yang terbaik sepanjang masa!”

Latihan dimulai dari hari itu. Mereka kembali latihan seperti biasa. Karina duduk di salah satu banggu di sana sambil memperhatikan rekan-rekan nya latihan. Jujur Karina sangat ingin ikut menari, tapi dengan fisik nya sekarang tentu saja itu membuatnya semakin buruk.

“Hei semua mana senyum nya? ingat tari piring bermakna kesejahteraan dan kemakmuran dan itu pasti disertai dengan kebahagiaan. Jadi senyumlah kawan-kawan ku…”

Karina tertawa kecil melihat ekspresi rekan-rekan nya yang terlihat senyuman penuh paksaan karena terlalu lelah untuk latihan. Karina walaupun dia berhati yang baik dan pengertian, kalau tentang perlombaan tentu sangat lebih dikeraskan oleh nya. Jiwa lembutnya menjadi tegas seketika. Seperti itu lah seorang kapten.

Tidak terasa latihan mereka sudah selesai dan sekarang mereka sudah berada di tempat mereka akan seleksi. Mereka sangat gugup, padahal ini masih seleksi, belum lomba di tingkat nasionalnya. Mereka berjalan menuju aula. Sesampainya di dalam aula, tim Karina dihalangi oleh saingan bebuyutan mereka yaitu Yara dan kawan-kawannya.

“Oh kayaknya kapten tercinta kita cedera, nih. ” Yara tertawa serta kawan-kawannya.

“Tolong jangan ganggu kami dan menyingkirlah.”

“Aku tidak yakin kalau kau serta tim kau lolos pada seleksi kali ini.”

“Kami percaya kalau kami bisa lolos pada seleksi ini.”

Setelah itu Karina dan kawan-kawan berjalan menuju tempat mereka. Yara serta kawan-kawan nya tertawa puas melihat keadaan Karina. Setelah itu Yara memberi senyum licik pada punggung tim Karina.

“Kalian tidak akan bisa.”

Beberapa menit kemudian, juri yang akan menyeleksi sudah sampai dan duduk di tempat yang sudah di sediakan. Tidak berbasa-basi juri langsung memanggil urutan pertama. Tim Karina mendapat nomor terakhir, mereka mendapatkan banyak waktu untuk bersiap-siap. Karina beralih melihat tim Yara, Karina tidak tahu mereka pada urut berapa tapi yang membuat Karina bingung, kenapa ekspresi Yara begitu cemas? Dan rekan tim nya bertanya apa yang terjadi. Mereka terlihat gelisah. Mereka terus berjalan kesana-kemari tidak tau arah. Apa yang terjadi?

“Karina, ada apa?”

Pikiran tersebut menghilang dan disadari oleh Siska.

“Eh ndak ada do, aman-aman,” jawab Karina dengan tertawa buatan.

Siska memasang wajah penasaran, “hmm.. baiklah.”

Waktu terus berlalu, sebentar lagi mereka akan diseleksi. Mereka sangat bersemangat sekarang. Giliran tim Yara yang di seleksi, mereka bersiap-siap pada tempatnya. Dan Karina melihat ekspresi yang sama seperti waktu tadi.

“Ada apa dengan ekspresi mereka? Tadi mereka seperti singa dan sekarang mereka seperti kelinci yang ingin dikasihani,” kata Nana. Ia jelas menyadari ekspresi dan gerak-gerik mereka. Terlihat wajah juri yang begitu sinis kepada tim mereka.

Tim Yara telah selesai di seleksi. Entah mengapa penampilan mereka begitu kacau. Beberapa orang yang salah gerakan, ada yang lupa gerakan, dan ada yang menari tidak sesuai tempo musik. Juri begitu marah pada mereka. Mereka sangat frustrasi dan memasang muka penyesalan. Mereka terus menundukkan kepala sampai juri sudah puas menceramahinya.

Sepuluh menit kemudian, tim Karina di panggil. Mereka bersiap-siap untuk mulai tampil. Musik mulai. Mereka menari dengan profesional. Memasang wajah penuh ceria dan senyum yang sangat indah. Membuat para juri terkagum-kagum melihatnya. Siska sukses dalam memecahkan piring dan kaki nya tidak ada yang terluka. Karina yang melihat sangat terharu pada mereka semua. Mereka membawakan tari dengan sangat serius dan profesional.

Penampilan telah berakhir dan diakhiri dengan tepuk tangan dari para juri sambil tersenyum puas. Mereka membungkuk hormat kepada juri lalu perlahan turun dari panggung.

“Kalian luar biasa!” seru Kirana sambil menepuk tangan.

“Terimakasih Karina!” semua serentak memberi terima kasih kepada sang kapten. “Ini semua berkat sang kapten tercinta kita! Jika tidak ada kamu, kita tidak akan bisa,” kata Nana sambil mengacungkan jempol nya kepada Karina.

 “Ah.. tidak masalah kawan-kawanku. Ini semua berkat kemampuan kalian, kalian adalah orang-orang yang telah terpilih sebagai perwakilan sekolah kita. Tidak diragukan kalau kita semua bisa!” kata Karina. Karina dan rekan-rekan tim berpelukan dan tertawa bersama serta saling menyemangati.

***

        Pengumuman telah keluar pada sore harinya. Mereka buru-buru melihat kertas yang ditempel oleh juri di tembok aula tersebut. Semua tim yang mengikuti seleksi buru-buru melihat hasil nya. Ada beberapa tim yang sedih dan menangis karena tidak lolos untuk lanjut ke tingkat nasional salah satunya adalah tim Yara. Karina membiarkan rekan-rekan timnya memeriksa hasil seleksi sementara dia menghampiri Yara yang sedang duduk termenung sambil memegang botol minumnya.

 “Apa yang telah terjadi dengan tim kalian? Kenapa tim kalian-”

 “Aku tau timku tidak baik dalam seleksi kali ini. Kami kurang latihan. D-dan maafkan aku.”

  Karina bingung kenapa Yara tiba-tiba meminta maaf kepadanya. “Kenapa kau minta maaf?”

 Yara menghela nafas dan mulai menceritakan dari awal. Mulai dari lomba pada tingkat provinsi pada satu minggu lewat kemarin. Setelah tim Yara tampil, lomba dihentikan terlebih dahulu untuk beristirahat. Dan itu adalah kesempatan Yara untuk menghampiri juri yang sedang beristirahat juga. Yara berjalan menuju ruangan juri dan membuka pintu secara kasar. Tentu ketiga juri yang sedang asik duduk santai sambil menikmati makanan mereka terkejut. Yara berjalan mendekati meja, tempat ketiga juri itu sedang makan. Dia melemparkan segepok uang yang lumayan banyak kepada juri tersebut sambil mengatakan, “ambil uang ini dan berikan tiga besar kepada tim ku.”

  Tentu juri menolaknya mentah-mentah dan sogokan tidak membantu bagi mereka. Yara memutarkan bola matanya dan memberi segepok uang seratus ribu lagi. Sontak juri kaget, juri ragu-ragu menerima tawaran tersebut. Yara menambahkan segepok uang seratus ribu kembali. Sudah tiga gepok uang seratus ribu yang dililit oleh kertas yang bertulisan satu juta lima ratus ribu. Juri membukakan matanya lebar-lebar dan tidak segan langsung menerima sogokan tersebut. Maka mereka dapat meraih juara tiga pada lomba tingkat provinsi kemarin.

Kemudian, enam hari sebelum seleksi, Yara menyuruh ayahnya mencari orang untuk menabrak Karina. Ayah nya tentu menolak secepatnya. Tapi Yara terus merengek dan menganggap ayah nya tidak menyayangi nya. Ayah nya pasrah dan permintaan tersebut diterimanya.

Yara menghampiri rumah Kirana sambil membawa teh talua kesukaan Ibu Karina. Dia mengetuk pintu dan dibuka oleh Ibu Karina. Dia memberi senyuman ramah andalan nya dan beralasan dia ingin berkunjung karena sudah lama tidak mampir. Ibu Karina menyambutnya dan menyuruh Yara duduk di ruang tamu. Mereka berbincang sebentar dan Yara memberikan minuman teh talua itu kepada Ibu Karina. Ibu Karina senang serta segan karena telah repot-repot membelikan ini hanya untuk dirinya. Yara tidak merasa direpotkan dan mempersilahkan Ibu Karina untuk meminumnya. Setelah itu, Yara pamit untuk pergi dengan alasan dia memiliki latihan pada sore ini. Ibu Karina mempersilahkan dan mengantarkan Yara hingga pintu depan. Yara pamit lalu pergi, terlihat senyum licik yang terukir pada wajah nya. Setelah Yara pergi, Ibu Karina menutup pintu. Tiba-tiba dia merasa matanya sangat berat dan sangat mengantuk. Dia berjalan menuju kamar tidur dan menghempaskan badannya ke atas tempat tidur dan langsung tertidur. Yara yang berjalan menuju mobilnya tertawa puas karena rencananya terus berhasil. Karina tidak di jemput ibunya karena telah tertidur oleh obat tidur yang ada didalam teh talua yang telah diberikannya.

Dan terakhir, Yara juga membayar seorang juri untuk menilai seleksi yang akan dilaksanakan dan membuat timnya lolos pada seleksi. Dan membuat tim Karina tidak lolos dalam seleksi. Akan tetapi, juri yang diutus Yara itu tertangkap oleh juri yang lainnya. Dan akhirnya juri sogokan Yara dihentikan dan digantikan oleh juri lainnya. Makanya Yara dan kawan-kawannya ditatap sinis dan di marahi karena kurang latihan oleh juri yang mengetahui perbuatan mereka.

Cerita diakhiri. Karina yang mendengarkan kebenaran dari Yara terdiam dan menahan emosi kepada Yara oleh rencana buruk Yara. Dia tidak percaya selama ini Yara berbuat curang serta menyakiti lawan tim nya demi dia dan tim nya menang dan lolos seleksi.

“Aku tau dengan ucapan maaf ku itu tidak membantu. Tapi apa yang harus kulakukan untuk menebus perbuatan salah ku-”

“Tidak ada,” kalimat Yara dipotong oleh Karina. “Masalah sudah berlalu dan aku hanya ingin ubahlah perbuatan licik mu ini. Ingat, kemampuanmu sama baiknya denganku tapi kau begitu sombong dan memedulikan dirimu sendiri.”

 Karina berhenti sejenak untuk mengambil nafas. “Sewaktu sekolah dasar, aku tidak pernah merasa bersaing dan membencimu. Kita dahulu adalah teman dan rekan tim yang di banggakan oleh sekolah. Kamu hanya ceroboh dan tidak ingin diberi bantuan padahal kau tidak bisa. Ingat, aku ada disana dan kau selalu menjauhi ku.” Karina tersenyum sedih. Yara menyadari ekspresi Karina yang sedih membuat dirinya semakin dililiti perasaan bersalah.

 “Aku sangat menyesal,” kalimat tersebut berhenti. Air mata telah menetes dan turun melewati pipinya.

 “Tidak apa-apa, Yara. Aku memaafkanmu.” Karina memberikan senyuman yang tulus.

 “Kamu pasti bisa mencobanya dari awal-”

 “KARINA KITA LOLOS!” kalimat Karina terpotong dengan sorakan Nana dari kejauhan. Sontak Karina langsung bangkit dari duduknya. Karina berjalan tergesa-gesa dengan kruk yang menopangnya. Karina dan rekan-rekannya bahagia. Yara yang melihatnya sontak memberi senyuman kepada Karina dan timnya dari kejauhan.

 “Kita akan membawa nama Sumatera Barat serta sekolah kita ke seluruh Indonesia!”

***

  Jam dinding sekolah menandakan jam satu siang. Karina sudah dapat berdiri tanpa kruk untuk menopangnya. Dia melihat sebuah piala besar serta medali-medali pajangan untuk mengganti medali asli untuk di pajang. Terlihat piala tersebut bertulisan juara 1 tari kreasi Indonesia tingkat Nasional. Dan terlihat foto Karina serta tim mereka yang memegang sebuah piala besar tersebut dengan wajah gembira. Karina tersenyum.

“Karina ayo kesini, kita bakal di traktir oleh Yara!”

“Baiklah aku kesana!”

Ya, Karina dan Yara kembali berteman. Rekan-rekan tim nya telah memaafkan Yara. Mereka sekarang adalah teman baik dan selalu menyemangati satu sama lain.

 

 

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Hasil Penelitian Fitri dan Nurul

PERKENALAN, hehe