MENIKAHNYA ORANG MINANGKABAU (RICI JUNEETA BALQIS)
Menikahnya Orang Minangkabau
Oleh Rici Juneeta Balqis
“Tentu boleh, apa yang mau kalian
tanyakan?”
“Beberapa waktu lalu,
saudara ku menikahi gadis minang. Aku sempat melihat mereka melakukan upacara
adat tersebut, itu membuat ku penasaran akan adat Minangkabau. Bisakah kau
menjelaskannya kepada kami berdua?” tanya Bella. Namaku Ghaitsa, aku seorang
siswa perempuan berusia 16 tahun yang berasal dari bagian barat Sumatera, di ibukota provinsi Sumatera Barat, tepatnya
Kota Padang.
Aku bersekolah di salah
satu sekolah swasta di Kota Bandung. Aku mempunyai 2 teman dekat di sekolah
baruku, mereka memiliki ketertarikan besar kepada adat istiadat Minagkabau,
yang membuat ku ingin memberitahukan tentang adat Minangkabau kepada mereka.
Disaat jam makan siang, mereka
menghampiriku dan mengajakku untuk makan siang bersama, tentu aku pun tidak
menolaknya.
“Ghaitsa, apakah kamu mau
makan bersama kami?” tanya Bella kepada ku.
“Ehh, apakah boleh?”
“Tentu saja boleh” jawab
Acha.
Aku pun mengangguk dan ikut
bersama mereka.
“Kamu mau pesan apa Get?”
tanya Acha.
“Samain aja sama kalian”
“Oke, Ibuk. Pesan mie
goreng nya 3 buk”
“Omong-omong sembari
menunggu pesanan kita, apa boleh kami bertanya?” tanya Bella kepada ku.
“Ohh, tentu saja boleh.
Perkawinan di Minangkabau terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu kawin ideal
dan kawin pantang. Kawin ideal di sebut dengan kawin samo awak atau lazim. Adat
Minangkabau mengatur semua aspek kehidupan di tengah-tengah masyarakatnya
sebagaimana dalam mamangan adat. Tata cara perkawinan pun juga di atur oleh
adat. Malam hari sebelum akad nikah dilangsungkan, mempelai wanita biasanya
melakukan malam bainai. Proses malam bainai biasanya dilakukan pada malam sebelum
akad nikah. Tradisi ini biasanya dilakukan bersama dengan kerabat terdekat atau
pun teman-teman dekat mempelai wanita. Tradisi ini bertujuan untuk
mengungkapkan kasih sayang dan memohon doa restu dari para sesepuh keluarga
mempelai wanita. Keesokan harinya, keluarga mempelai wanita menjemput keluarga
mempelai pria menuju kerumah mempelai wanita untuk melaksanakan pernikahan.”
“Ohh iya, kerabat ku juga
melakukan hal tersebut,apakah ada prosesi lain dalam tata cara pernikahan
Minangkabau?”
“Ada jika menikah dengan sesama orang minang,banyak
prosesi yg harus di laksanakan”
“Yang
pertama adalah Maresek,maresek ini juga bisa disebut sebagai perkenalan antar
dua keluarga dengan pihak keluarga
mempelai wanita berkunjung
ke rumah mempelai pria.Selanjutnya Manimang
dan Batimbang Tando jika di setujui maka keluarga
wanita akan membawa sirih
pinangan lengkap,kue-kue,dan buah-buahan.Jika pinangan di terima maka kedua
belah pihak akan
melaksanakan Batimbang
Tando yaitu prosesi bertukar tanda atau bertukar barang-barang seperti
keris,kain adat,atau benda yang
berharga bagi keluarga.
Setelah itu, prosesi Mahanta Sirih atau meminta izin. Prosesi ini dilakukan
kedua belah pihak dengan
meminta izin kepada
keluarga besar yang ditua kan, keluarga mempelai wanita membawa sirih lengkap,
sedangkan calon mempelai
pria membawa selapah yang
berisi daun nipah dan tembakau. Lalu ,prosesi Babako dan Babaki,keluarga ayah
dari calon mempelai
wanita menunjukkan kasih
sayangnya dengan menanggung biaya pernikahan sesuai dengan kemampuannya, calon
mempelai wanita
dijemput untuk mengunjungi keluarga
ayah untuk diberi nasehat penting seputar pernikahan. Keesokan harinya keluarga
ayah
menghantarkan mempelai
wanita kembali kerumah disertai dengan sirih lengkap, nasi kuning dan singgang
ayam sebagai simbol
makanan adat, selain itu
mereka juga membawa pakaian, perhiasan emas, dan kebutuhan lainnya. Setelah itu
barulah masuk ke dalam prosesi Malam Bainai. Setelah Malam Bainai dilakukanlah
prosesi Menjapuik Marapulai seperti yang dilakukan kerabatmu. Setelah itu di
lakukanlah penyambutan di rumah mempelai wanita dengan diiringi musik-musik
tradisional Minangkabau dan Tari Persambahan. Itulah prosesi sebelum pernikahan
yang ada di Minangkabau.” ujar ku kepada mereka berdua.
“Di Minangkabau juga ada
prosesi setelah menikah.”
“Oh ya?,mau kah kau menjelaskannya
juga?”
“Boleh saja”
“Setelah menikah,mempelai
wanita dan mempelai pria melaksanakan prosesi
Mamulangkan tando atau mengembalikan barang berharga yang menjadi
pengikat mempelai wanita dan mempelai pria sebelum menikah.Selanjutnya ada
prosesi yang disebut Malewakan Gala Marapulai atau mengumumkan tanda gelar kehormatan
yang di dapatkan oleh mempelai pria setelah menikah.”
“Aku hanya ingat sampai disana,tetapi
di Minangkabau juga ada peraturan untuk menikah.”
“Peraturan?Memang nya apa
saja peraturannya Ghaitsa??Boleh kah kamu menjelaskannya sekali lagi kepada
kami?”
“Tentu,dengan senang hati”
“Di Minangkabau ada 4 jenis
perkawinan seperti yang aku sampaikan tadi,ada perkawinan ideal,perkawinan
kurang ideal,perkawinan pantang,dan juga kawin sumbang.”
“Dari ke-4 jenis perkawinan
ini apa pedanya Get?”
“Bedanya yaitu,jika perkawinan
ideal merupakan perkawinan yang biasa terjdi di Minangkabau,contohnya,perkawinan
pulang ka bako atau menikah dengan keluarga ayah,ataupun perkawinan awak samo
awak.Jika kawin kurang ideal terjadi apabila salah satu pasangan dari luar Minangkabau,khususnya
jika pihak wanita dari luar Minangkabau.Yang ke 3 yaitu kawin pantang
perkawinan ini merupakan perkawinan yang paling dilarang oleh agama dan
adat,seperti kawin sesuku,kawin dengan bertali darah dengan dengan ibu kandung
ataupun perkawinan dengan sepupu.Yang terakhir ada kawin sumbang yaitu kawin
antara kerabat dekat yang tidak di izinkan hukum adat.”
“Ohh,jadi seperti itu?berarti
kerabat ku termasuk ke dalam perkawinan kurang ideal ya?”
“Bisa di bilang begitu”
Saat mereka sibuk
bercerita, mie yang mereka pesan akhir nya datang.
“Ini neng, mie goreng nya.
Maaf neng lama, tadi rame yang mesan soalnya.”
“Ngga masalah buu”
“Silahkan di makan”
Kami pun serentak mengangguk,lalu
lanjut menyantap mie yang sudah kami pesan tadi.
Bel masuk pun berbunyi
menandakan jam makan siang telah berakhir.Kami serentak beranjak dari kantin
menuju ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pembelajaran selanjutnya.Sesampainya
di kelas , Acha kembali mengajak ku berbincang sambil menunggu guru yang akan
masuk untuk mengajar jam pelajaran selanjutnya.
“Ghaitsa,terimakasih ya
atas menyapaiannya tadi,karna penjelasan dari kamu aku jadi tau dan tidak
penasaran lagi tetang tata cara pernikahan yang ada di Minangkabau.”
“Iya,sama-sama Acha,jika
kamu ingin bertanya hal lain tentang budaya Minangkabau aku degan senang hati menjawab
pertanyaan mu semampu ku ya”
“Iya Ghaitsa,kamu juga
ya,jika ingin bertanya tentang budaya Sunda atau jika kamu ingin belajar Bahasa
Sunda barang kali aku juga bisa membantu mu.Jangan malu-malu ya.”
“Oke
Acha,terimakasih ya tawaranya,lain waktu aku ingin belajar Bahasa Sunda sama
kamu ya Cha,agar aku lebih mudah bersosialisai di sini”
“Iya
Ghaitsa,dengan senang hati”
Komentar
Posting Komentar