DESA BAGONJONG (RADELLA ARDHANA MAKRUF)
"DESA BAGONJONG”
OLEH
RADELLA ARDHANA MAKRUF

Setetes air hujan mulai turun membunyikan sebuah irama pada
genteng tua ini. Suara itu memecahkan lamunan gadis yang sedang berbaring di
atas tempat tidurnya. Jetta nama gadis itu dan suara yang membuat buyar
lamunannya tidak lain dan tidak bukan adalah suara bundanya.
"Tidak
baik sering melamun, Nak.”
"Iya,
Bun. Jetta sedang tidak melamun hanya kepikiran sesuatu.”
Sambil
tersenyum bunda menjawab, "Sama saja itu, tidak beda. Emangnya Jetta sedang
memikirkan apa sampai sering melamun akhir-akhir ini,” tanya bunda penasaran.
"Tidak ada Bun hanya sudah memikirkan tentang tugas
kampus, kira-kira desa apa yang bagus sebagai tempat untuk tugas kampus ini
Bun?" Sejenak Bunda ikut berpikir, lalu terlintaslah sebuah ide dari
bunda.
"Bagaimana dengan desa tempat tinggal kita saja, di
sini Jetta dapat mengabdi dan menerapkan ilmu-ilmu yang telah kau dapatkan,”
jawab bunda.
Jetta tersenyum kepada bunda, “bunda memang hebat.”
Jetta telah menghubungi teman sekelompoknya yaitu Hilman,
Ukun, Salsa, dan Ami. Mereka sepakat untuk tugas kuliah ini dilakukan di desa
tempat tinggal Jetta.
Mereka telah duduk di rumah gadang milik kepala adat
pemimpin di desa ini. Suasana tegang sangat terasa di antara mereka berlima.
Tak lama kemudian, kepala adat menyetujui tugas mereka untuk mengobservasi desa
ini.
Malam
harinya mereka duduk di teras rumah gadang, rumah Jetta. Berbagai macam makanan
telah dihidangkan di hadapan mereka mulai dari Rendang, Gulai Tunjang dan makanan
ringan seperti Sala Lauak.
"Jetta, apa nama makanan yang
ada di bambu ini yang berwarna putih?" tanya Hilman terheran-heran. Yang
lain juga ikut terheran, meminta sebuah jawaban dari Jetta.
"Oh ini, namanya Ampiang
Dadiah. Itu susu kerbau segar yang dimasukkan ke dalam bambu yang telah
dipotong-potong dan ditutup dengan daun pisang lalu dibiarkan kurang lebih 2
hari. Cobalah Man!" jawab Jetta.
"Hmm.... sepertinya aku tidak suka, Ta. Lebih baik aku
makan paragede jagung aja lah, Ta,” jawab Hilman.
"Hahaha... iya Man, terpampang jelas di wajahmu,” jawab
Ukun.
"Oh iya Ta, bagaimana kalau untuk tugas kuliah ini kita
mengadakan festival makanan saja, melihat banyaknya makanan daerah Minang yang
jarang diketahui publik.”
"Ide
bagus Sal, lalu bagaimana jika kita juga mengadakan sedikit hiburan seperti
tari Dindin Badindin,” jawab Jetta antusias.
Tak lama mereka semua kompak mengatakan setuju dan hanya
perlu persetujuan dari kepala adat dan orang penting di desa ini. Semua
orang-orang penting dikumpulkan di rumah gadang untuk bermusyawarah. Ada
beberapa suara setuju dan sebagian kecil tidak setuju.
"Begini bapak-bapak sekalian, bukannya ambo tidak setuju, ide mahasiswa ini
memang rancak, tapi melihat kondisi
desa saat ini kurang mendukung," jawab Pak Saiful.
"Iya
Pak, Ambo setuju sama Pak Saiful apalagi sekarang hujan jarang turun dan padi
sering gagal panen" jawab Pak Mahzar mendukung argumen Pak Saiful.
Banyak orang-orang yang mengangguk dan mereka pulang dengan
rasa kecewa. Setibanya di rumah, Jetta mengurung diri di kamar. Tak lama
kemudian suara ketukan dari pintu berbunyi dan orang dibalik pintu itu adalah
bunda.
"Masuk saja Bun, pintunya tidak Jetta kunci.”
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Jetta, Bunda ingin berbicara, Nak.”
Dia segera menghapus air mata yang sedari tadi keluar yang
telah ditutupi dengan bantal dan mungkin kini, mata itu telah sembab.
"Bunda
tahu Jetta sedih, Nak. Tapi yang lain juga pasti sedih sama seperti Jetta.
Nasihat bunda hanya satu, Nak. Jika kamu ingin keinginanmu terwujud, maka
bekerja keraslah dan buktikan kepada mereka bahwa kau bisa melakukan yang
terbaik.”
Keesokan paginya dengan tekad yang kuat, dia dan
teman-temannya berani melangkahkan kaki ke rumah Gadang itu. Telah dipegang
kuatnya nasihat Bunda tadi malam.
Musyawarah pun berlangsung sudah lebih 1 jam, melihat tekad dan ambisi mereka
yang begitu besar Pak kepala desa akhirnya memutuskan untuk mengadakan festival
makanan di Desa Bagonjong. Banyak tamu yang akan diundang, terutama bapak
kepala nagari sini dan orang penting lainnya.
Sudah tiga hari mereka menyiapkan acara ini dan dibantu oleh
beberapa warga. Entah mengapa, sore ini tetes air dari langit turun dengan
lebat. Berapa hari belakangan ini sangat jarang turun hujan. Jetta dan
teman-temannya berharap cuaca besok akan baik-baik saja dan festival makanan
dapat dilaksanakan.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pagi ini orang-orang
sibuk menghidangkan makanan khas Minang di lapangan. Disela kesibukan
orang-orang, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang kuat dari kejauhan. Hujan
lebat mulai mengguyur lapangan ini. Kebingungan kini terjadi, "Apa yang
harus dilakukan sekarang?" tanya Jetta.
Salsa orang yang memiliki 1001 ide dan rencana mengusulkan,
"Bagaimana jika festival ini dipindahkan saja ke balai desa?" Semua
menggangguk setuju termasuk bapak kepala adat.
Balai adat cukup untuk menampung
para tamu undangan. Semua sudah siap dihidangkan dan para tamu undangan sudah
mulai berdatangan. Mereka berhamburan ke sana kemari melihat makanan khas
Minang. Tepat saat sesi acara puncak dimulai alat musik dimainkan secara elok
dan tarian Dindin Badindin ditampilkan secara meriah dan juga sebagai pertanda
sudah selesainya tugas kuliah mereka di Desa Bagonjong ini, telah berjalan
sukses meskipun ada hambatan yang harus mereka lewati.
Komentar
Posting Komentar