RANDAI (AISYATUL ZAKIAH RIFKI)

RANDAI
OLEH
AISYATUL ZAKIAH RIFKI
Badanku
serasa ditarik ke atas dan dihempaskan ke bawah dengan berulang-ulang kali.
Kata-kata tidak jelas dan penuh makian berputar-putar di kepalaku. Aku tetap
berusaha untuk tenang, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tapi itu sama sekali tidak membantu.
Aku
membuka laci yang terletak disudut kamar berukuran 5x6 meter ini, mengambil
beberapa obat-obatan dan meminumnya dengan sekali tenggak. Tidak. Aku tidak
sakit apapun. Melakukan hal ini dapat membuat tubuhku terasa rileks, aku sering
melakukannya disaat aku merasa tertekan. Ironis sekali, bukan? Bocah yang
dulunya sangat susah untuk disuruh minum obat ini sekarang meminum obat dengan
melebihi dosis yang seharusnya.
Lupakan. Besok aku akan tampil.
Bukan bukan bukan, jangan bayangkan aku seorang atlet yang akan lomba basket
antar sekolah besok. Aku merupakan seorang pemain randai. Kalian tahu apa itu
randai? Kalau tidak tahu, searching.
Intinya, randai ini merupakan salah
satu kebudayaan dari Minangkabau yang sangat kucintai. Pertama kali aku
melihatnya saat umurku 7 tahun, dan aku langsung jatuh cinta begitu saja. Itu
merupakan proses yang sangat alami. Semuanya baik-baik saja, sampai suatu hari
aku mengatakan kepada ibuku bahwa aku ingin menjadi pemain randai. Skenario
terburuk yang ada dipikiranku saat itu adalah “tidak”, tapi ibuku membuatnya
menjadi 100 kali lebih buruk. Dia marah besar dan melempar semua barang
disekitarnya.
Percayalah, tinggal bersama orang
gila akan membuat kalian juga menjadi gila secara perlahan. Sebenarnya aku
tidak ingin mengatakan bahwa ibuku gila, bagaimanapun dia tetap ibuku. Tapi
tetap saja, aku ikutan gila lama lama.
“Kasa! Ayo turun kesini, makan!
Jangan main hp terus dong dikamar, bersosialisasi disini sama ibu dan ayah,”
seru ibuku dari bawah. Aku menghembuskan nafas sembari berusaha menetralkan
detak jantungku. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus tampil besok.
Bagaimanapun caranya.
Suasana yang begitu tegang dan bunyi
tokek membuat semuanya sempurna. Ya, sempurna untuk membuat jantungku serasa
ingin meledak. Aku ingin bertanya sejak tadi, apakah aku boleh mengikuti
penampilan randai yang diadakan disekolah besok. Sebenarnya ini tugas wajib,
tapi percayalah, ibuku memiliki 1001 cara untuk menjauhkanku dari kebudayaanku
sendiri.
Acara ini tidak seharusnya dilakukan
besok. Seharusnya masih akan diadakan 2 minggu lagi, tapi entah kenapa pihak
sekolah tiba tiba memajukan jadwalnya. Dan sial, baru diumumkan tadi pagi.
Semua persiapan sudah aman, yang belum kudapatkan hanyalah izin dari ibuku.
Suara dentingan sendok dan garpu
membuyarkan lamunanku. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati ibuku dengan wajah
serius menatapku dalam-dalam, seolah ingin menguak sesuatu yang sedang
kusembunyikan.
“Ibu sudah izin sama kepala sekolah
kamu, kamu ndak perlu ikut besok.
Tinggal aja dirumah.”
Aku menggeleng. “Kasa tetap pergi.
Kasa udah latihan berbulan bulan demi ini, ndak
mungkin tiba tiba Kasa mundur gitu aja. Terus teman teman Kasa yang lain
gimana?”
“Siapa yang suruh kamu latihan? Ibu
udah larang kamu buat ikut segala hal yang berbau kayak gitu, kan? Kenapa kamu ndak pernah nurut sama ibumu sendiri,
Kasa? Kamu mau jadi anak durhaka?!”
Sakit. Bukan kata katanya. Tapi
sakit rasanya saat melihat ibuku seperti ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi
kepadanya sampai-sampai ibu membenci budaya kami seperti ini, ibu bahkan tidak
pernah bercerita kepadaku tentang apapun. Bagaimana aku akan mengerti?
Aku mendorong piringku yang masih
penuh. Aku menatap ayahku, meminta pertolongan. Tapi, tidak ada gunanya. Dia
hanya bisa diam seolah-olah lupa cara berbicara saat istrinya mulai seperti
ini. Aku pergi kekamar dan mengabaikan seruan-seruan dari ibuku.
Acaranya dimulai jam 9 pagi. Itu
artinya, aku harus datang setidaknya jam 8 untuk menyiapkan banyak hal. Baju
yang akan kupakai untuk besok sudah terletak rapi di lemariku. Tapi masih
banyak hal yang harus kusiapkan untuk besok. Walaupun kepalaku terasa sangat
berat dan pikiranku sudah kalut, aku tetap harus pergi. Walaupun aku harus
memanggil mimi peri dari kayangan, aku akan tetap melakukannya.
***
Sial. Pukul sudah menunjukkan pukul
delapan dan aku baru bangun dari tidur nyenyakku. Aku mandi dan bersiap-siap
dengan cepat kilat. Saat menuruni tangga, aku melihat ibuku yang sedang
memegang handphone ku ditangannya. Serius, aku ingin menangis rasanya.
Kenapa ibu tega? Aku sudah berlatih
dengan keras selama berbulan bulan dan mengorbankan banyak hal untuk ini, tapi
ibu bisa dengan mudahnya mematikan alarm ku hanya demi egonya sendiri.
“Kasa pamit dulu, bu.” Aku mengambil
handphone ku sambil menunduk dan pergi. Pikiranku sudah kacau, aku bahkan tidak
tahu lagi aku akan berangkat menggunakan apa sekarang ini.
Ibuku hanya diam, dia kelihatannya
marah. Tapi dia pasti berpikir bahwa aku tetap tidak akan dapat mengikuti acara
ini, karena jarak rumahku dengan sekolah yang cukup jauh. Apa aku menyerah
saja? Aku juga tidak bisa membawa motor atau mobil. Handphone ku pasti sudah
penuh dengan panggilan tidak terjawab dari teman-teman sekelasku.
Aku menunduk dalam-dalam. Aku sudah
bersiap-siap kembali kekamar dan meminum obat-obatan sialan itu. Sampai sebuah
suara yang terdengar akrab ditelingaku terdengar, “Ayo ayah antar.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku berbicara lebih dari 2 kalimat dengan ayahku. Kami banyak mengobrol di
perjalanan, dan ini tidak pernah kulakukan sebelumnya. Dia tipe orang yang
sangat kaku dan menyeramkan jujur saja.
“Baa
kalau Kasa cari ojek aja? Tingga 200 meter lai, lamo bana kalau Kasa tunggu sampai indak macet,”
saran ayahku. Aku melirik jam ditanganku sekilas, 08.45. Aku bisa gila lama-lama.
Tanpa mengatakan apapun karena sudah
terlanjur panik, aku segera turun dan menepi. Aku membuka aplikasi untuk
memesan ojek online, tapi aduh, baru ingat kalau aku tidak memiliki paket data.
Aku mengacak acak rambutku dengan gusar. Apa lari saja, ya?
Disaat aku masih berusaha memutar
otak untuk mencari jalan yang terbaik, aku menyadari ada seseorang dengan motor
dan wajah yang mirip-mirip dengan orang sini, tapi aku yakin dia bukan orang
Indonesia. Kenapa? Karena dia berbicara menggunakan bahasa Inggris.
“Excuse
me, can I ask you something?”
Aku kembali memutar otakku dan
mendapatkan sebuah ide. “I will answer
you if you will take me to my school first.” Tidak lupa, aku memasang wajah
memelas agar dia merasa kasihan kepadaku. Orang asing itu terlihat berpikir
sebentar, lalu mengangguk. Aku naik ke motornya dengan semangat dan menunjukkan
jalan menuju sekolahku.
Bagian paling menyebalkannya adalah
disini. Aku tidak sebal kepada orang asing itu, berterima kasih malahan
seharusnya. Tapi, aku sebal kepada diriku sendiri. Sesampainya di SMA, aku
langsung turun dan pergi karena pikiranku kalut. Saat berada di ruang ganti,
aku langsung menyesali perbuatan tidak beradab itu. Aku mengabaikan salah satu
temanku yang sibuk mengomel panjang lebar.
“Udahlah, kau kan tahu sendiri
gimana ibuku. Kalau ibuku sedikit aja lebih kejam daripada ini, bisa bisa aku
dikasih obat tidur loh, Sar. Ini masih mending.”
Sari, temanku dengan wajah sinis
yang sangat kental itu, memutar bola matanya kesal. “Terus, sama siapa kau
kesini?”
“Sama ayahku.”
“Pake motor?”
“Pake mobil.”
“Bodohnya, macet pasti. Pantas aja
kau telat. Kenapa ndak pakai motor?”
“Entahlah Sar, cobalah kau tanya
sama bapakku. Ndak usah kau
interogasi aku sekarang, makin pusing aku.”
Sari hanya nyengir, dia mengangguk
dan lanjut mengurus temanku yang lain. Aku menyandarkan kepalaku akibat lelah.
Kami yang keempat tampil, masih cukup lama. Aku berusaha menetralkan detak
jantungku dengan berbagai cara. Memikirkan kartun yang paling kusukai, menarik
nafas dan membuangnya berkali-kali dan memikirkan hal-hal lucu.
“Eh, Kasa! Berarti ibu sama ayah
kamu nggak datang dong kesini?”
“Entahlah, Bung. Kalau ibuku sih
sudah pasti tidak akan mau kesini, kalau ayahku entahlah.”
Namanya Bunga, aku sengaja
menyingkat namanya menjadi “Bung”. Cewek yang satu ini jauh lebih normal dan
sopan daripada Sari, dari wajahnya saja sudah terlihat. Temanku memang lebih
banyak yang perempuan daripada laki-laki. Aku tetap memiliki teman laki-laki
kok, tapi palingan hanya sekedar halo-hai saja. Ada sih satu orang yang sangat
dekat denganku sejak SD, tapi hanya itu saja.
Aku menatap pantulan wajahku di
cermin, berdo’a dalam hati dengan khusyuk. Aku tidak boleh mengecewakan
siapapun hari ini. Aku akan melakukan yang terbaik hingga ibuku dapat
mengikhlaskan aku untuk menjadi jika pemain randai. Aku sudah bertekad, jika
ibuku tetap berkata “tidak”, aku akan benar benar berhenti.
Penampilan kami dilakukan satu
kelas. Sebagian membentuk lingkaran ditengah-tengah panggung dan sebagian lagi
memainkan alat musik seperti saluang, bansi, talempong, canang, gandang,
dan rabab. Aku sama sekali tidak berbakat memainkan alat-alat musik
tradisional, aku hanya dapat memainkan gitar, itupun hanya beberapa kunci.
Selama tampil, aku seperti sedang
berada didunia lain. Aku tidak dapat melihat apapun lagi, mungkin inilah yang
orang sebut dengan konsentrasi tingkat tinggi. Setelah 15-20 menit berada
diatas panggung, barulah aku merasa kembali kedunia nyata.
Aku segera meminum air mineral saat
berada di ruang ganti. Kami semua melakukannya dengan baik tadi. Aku melirik
Sari yang juga sedang minum disebelahku. “Aman kau, Kasa? Ngapain kau senyum-senyum
sambil nengok aku?”
“Kepedean kau, Sar! Orang aku lagi
liat si Nathan, kok.”
Sari hanya mencibir pelan. Setelah
mengganti baju, aku segera berdiri dan pergi mencari udara segar. Rencananya
sih aku ingin melihat lihat stan, tapi aku tiba tiba teringat dengan orang
asing tadi. Aduh, kemana coba mau aku cari?
Baiklah, setelah menimbang-nimbang
sebentar, aku menghampiri satu-satunya teman laki-laki yang dekat denganku.
Namanya Nathan, tubuh serta wajahnya menggelap karena kebanyakan main bola. “Woi
Nathan, temani aku kedepan sana.”
Nathan menghentikan permainan sepak
bolanya dan menghampiriku dengan nafas yang terengah-engah. “Kemana? Ndak bisa kau ajak si Sari atau siapa
gitu?”
Aku memutar bola mataku malas.
“Pakai motor, Than. Mana mungkin aku dibonceng sama Sari, malu lah aku.”
Nathan tertawa terbahak-bahak dan
menempeleng kepalaku sampai-sampai aku beraduh pelan. “Makanya, belajar bawa
motor. Jangan nyusahin aku aja kau bisanya.” Walau begitu, dia tetap mengambil
kunci motornya dan tidak menolak. Aku hanya bisa nyengir, kapan-kapan deh aku
belajar bawa motor.
“Mau kemana sih kita sebenarnya?”
“Kedepan itu aja sebentar, aku mau
nyari orang.”
“Siapa? Cewek?”
Aku berdecak pelan. “Kau jangan
banyak tanya, Than. Kayak Dora kau lama-lama.”
Sesampainya didepan, nihil. Tidak
ada siapapun disana. Aduh, kalau sudah begini aku hanya bisa berdoa orang asing
tadi menemukan orang lain dan bisa bertanya dengan damai dan tentram. Semoga
dia tidak dendam padaku. Amin.
“Sudah ketemu orang yang kau cari?”
“Ndak
ketemu. Sudahlah biarin aja, ayo balik kesekolah.”
“Eh, orangtua kau gimana? Mereka ndak datang ngeliat kau?”
Aku mengangkat kedua bahuku,
seharusnya dia tahu jawabannya. Nathan mengangguk-angguk sambil menatapku
dengan kasihan seolah-olah aku adalah anak anjing yang belum makan 3 hari.
“Biasa aja kali, Than.”
Kami kembali kesekolah. Nathan
kembali bermain sepakbola bersama teman-temannya, dan aku membeli minuman
disebuah stan dan duduk disebuah kursi yang telah disediakan. Saat sedang asyik
minum, aku menangkap siluet seseorang yang aku kenali.
Orang itu berbalik dan tersenyum
saat melihatku. Aku menghembuskan nafasku dengan lega, siapa yang menyangka
tujuan orang asing tadi itu kesekolahku? Takdir memang selalu berjalan dengan
aneh.
“What
are you doing here?” tanyaku.
“I
want to visit my sister in law.”
“Ah,
really? What’s her name? Maybe I know
her.” Disaat saat seperti inilah, aku merasa sangat bersyukur dahulu saat
masih kecil ibuku memaksaku untuk ikut les bahasa Inggris. Ternyata gunanya
sangat luar biasa.
“Her
name is Bunga.”
Aku membuka mulutku akibat terkejut.
Aku baru ingat kakaknya Bunga memang baru menikah beberapa bulan yang lalu. Aku
hanya tidak menyangka. Sekali lagi, takdir memang selalu berjalan dengan aneh.
“Your
performance was very cool. Wait… Randai, right? That was so cool!”
“Thanks.”
“I
also have some similar ones in my country. Khon, Li-Khe, Ram Wong, so many. But
this is the first time I saw a very exciting and meaningful dance. In my
country, almost everything moves quietly. I like it, but seeing Randai for the
first time was so fun.”
“Yeah,
I deserve all the complimets. I practiced for months just for this.”
Kami tertawa bersama sama. Setelah
mengobrol beberapa hal lainnya, barulah dia pergi untuk mencari Bunga. Aku
mengacungkan kedua jempolku dan ikut berdiri untuk kembali ke aula.
“Kok ayah ndak bilang kalau mau lihat Kasa kesini?” tanyaku sambil duduk
disamping seseorang yang tidak kusangka sangka akan datang.
“Ayah kan emang nio sekalian mancaliak
Kasa tadi.”
“Berarti tadi ayah liat waktu Kasa
tampil?”
“Lihat. Hebat bana anak ayah.”
Aku tidak dapat menahan senyumanku.
Ini pertama kalinya aku dipuji oleh ayahku. Hatiku menghangat. Tapi karena
tidak tahu lagi ingin membicarakan apa, aku hanya menatap ke panggung sambil
tenggelam didalam pikiranku.
“Kasa, kamu nio tahu kenapa ibumu sebenci itu dengan budayanya sendiri?”
“Emang kenapa, Yah?”
Ayah menarik nafasnya dalam-dalam
sebelum membuka mulutnya untuk bercerita. Jantungku berdegup kencang, aku tidak
tahu cerita ini akan mengarah kemana, tapi perasaanku sudah tidak enak.
“Dulu saat masih sebesar Kasa, ibu
kamu merupakan pemain randai di kampuangnyo.”
Aku ternganga. Fakta mengejutkan
macam apa ini? Jangan sampai setelah ini ayahku mengatakan hal yang lebih
mengejutkan lagi, seperti ibuku ternyata bajak laut misalnya, atau apalah.
Pokoknya hal-hal yang mengagetkan seperti ini sangatlah tidak cocok untuk
jantungku.
“Sampai suatu hari, disaat ibu kamu ka menunjukkan sebuah penampilan randai
di balai kota, dia kecelakaan. Kakinyo
patah, tangannyo juga patah, sadonyo hancur berkeping keping pas itu,
Kasa.”
“Sejak saat itu, ibu kamu indak bisa bajalan dengan normal. Dia mulai membenci kebudayaannyo surang, terutama randai yang dia anggap telah marabuik semuanya. Ibu kamu baru bisa
mulai berjalan dengan normal beberapa tahun sasudah
melahirkan kamu, tapi itu sama sekali indak
mengurangi kebenciannya.”
“Kamu pasti bisa, Kasa. Ado sesuatu pada diri kamu yang dapek membuat urang nyaman setiap kali mangecek
denganmu. Cibolah bicara elok-elok jo ibumu, dia pasti mengerti
dan mengizinkanmu.” Ada sesuatu pada diriku? Aku mulai merasa itu benar karena
ayah bukan yang pertama bicara seperti ini. Aku ingat dulu Nathan mengatakan
hal yang sama, Sari dan Bunga juga pernah.
Aku berpikir sebentar untuk
menguatkan tekadku dan mengangguk dengan semangat, “Tunggu Kasa disini, Yah.
Kasa pergi sebentar.” Ayah menatap mataku dalam-dalam dan mengangguk tipis.
Aku ikut tersenyum dan berlari
menuju seseorang yang selalu pasrah setiap kali disusahkan olehku. “Nathan!
Antarkan aku kerumah sebentar!” suruhku sambil melempar kunci motornya. Nathan
hanya memutar bola matanya dan mengeluh sepanjang perjalanan, tapi dia tetap
melakukannya.
“Mau ngapain lagi sih kau pulang?
Mau pundung karena ibumu ndak datang, hah?”
“Ndak lah, nanti aku balik kok
kesekolah.”
“Jangan kau telpon pula aku kesini
buat jemput kau nanti, ya.”
Aku tertawa terbahak bahak, menggeleng.
Aku melepas helm dan mengusir Nathan dari rumahku. Dia cemburut dan pergi
menggunakan motor bututnya yang sudah sangat sering aku naiki itu. Sepertinya
aku tidak akan rela kalau suatu saat nanti dia punya pacar, masa iya aku harus
dibonceng oleh Sari atau Bunga? Kemana harus kuletak harga diriku?
“Ibu, Kasa mau ngomong sama ibu.”
Ibuku terlihat sangat cantik
sekarang ini. Rambutnya tergerai, sebuah buku tentang makna kehidupan menambah
keelokan dan tidak lupa senyuman tipis yang tercetak dibibirnya. “Ayah kamu
sudah cerita sama kamu, Kasa?”
“Tentang ibu yang dulu merupakan
pemain randai?”
Ibu tidak menjawab.
“Sudah.”
Atmosfer diruangan yang terlihat
sangat akrab itu seketika berubah. Sedikit menjadi lebih tegang, tapi masih
tidak separah biasanya. Aku diam, ibuku juga diam. Ia telah meletakkan bukunya beberapa
detik yang lalu dan fokus menatap mataku. Entah apa yang dia cari.
“Ada satu hal yang ayahmu tidak
tahu, Kasa. Ibu benci bukan karena kaki ibu patah, ibu benci bukan karena ibu
tidak bisa lagi berjalan dengan normal sejak itu. Ibu benci, sangat benci
karena sahabat terbaik ibu, meninggal karena itu. Dia meninggal karena
menyelamatkan ibu. Dia meninggal karena ibu, Kasa! Karena ibu!” hatiku serasa
diremukkan oleh sesuatu yang tidak dapat kulihat pada saat itu. Melihat ibu
menangis sambil memukul mukul dadanya sendiri seperti ini membuatku merasa
sangat terpuruk.
Aku memeluk ibu dengan erat. Aku
tidak sanggup mendengar kisahnya. Ini menyakitkan. Sudah kuputuskan, ini adalah
penampilan terakhirku. Aku tidak ingin lagi melihat orang-orang yang kusayangi
seperti ini. Mungkin sekali-sekali, aku akan tetap melihat pertunjukkan randai.
Tapi aku tidak akan menjadi seorang pemain randai lagi. Karena bagaimanapun,
surgaku terletak ditelapak kaki wanita ini.
Komentar
Posting Komentar